
Pada masa sebelum merebut kemerdekaan Indonesia, mahasiswa atau yang dahulunya disebut pelajar berhasil membawa pengaruh bagi rakyat berupa perubahan yang belum pernah dirasakan sebelumnya, yakni terlepas dari penindasan secara fisik dan mental dari pemerintahan kolonial yang menjajah Indonesia. Diawali dengan kesadaran akan posisi sosial mereka yang dibentuk untuk kepentingan reproduksi kapitalis imperialis Hindia Belanda yang karenanya tidak akan mampu memberikan perubahan yang signifikan bagi kondisi rakyat melalui bekal ilmu pengetahuan dan fasilitas yang dimiliki. Para mahasiswa yang memiliki kesadaran kritis kemudian lebih memilih alternatif turun ke masyarakat untuk membangun basis-basis perlawanan dengan membentuk kesadaran rakyat luas bahwa sistem politik yang sedang berjalan merupakan sumber penindasan dan ketidakadilan. Berbagai bentuk cara pun diambil mulai dari perjuangan di bawah tanah, menggunakan Koran sebagai media perjuangan bahkan sampai perlawanan secara terbuak menggunakan senjata.
Perjalanan sejarah perjuangan rakyat Indonesia, selalu berkaitan erat dengan perjuangan gerakan mahasiswa. Bukan hanya karena gerakan mahasiswa merupakan salah satu varian dari gerakan rakyat, melainkan juga peran yang penting untuk dijalankan. Dimulai dari perjuangan melawan pemerintah kolonial untuk terlepas dari penindasan secara fisik dan mental serta untuk memiliki teritorial dan kedaulatan yang diakui oleh seluruh Negara-negara di dunia, hingga perlawanan terhadap ketidakadilan dan penyalahgunaan kekuasaan oleh rezim yang berkuasa.
.Latar belakang yang dimiliki itu kemudian menjadi satu-satunya alasan bagi mahasiswa untuk tetap berada dalam satu garis perlawanan dengan rakyat ketika menghendaki terjadinya perubahan yang radikal pada tatanan masyarakat dan kondisi sosial yang mengiringi kondisi objektif rakyat seutuhnya. Sehingga output yang dihasilkan berupa isu dan tuntutan yang dibawa dalam aksi-aksi perlawanan mahasiswa memiliki keterkaitan dengan hal-hal yang dibutuhkan dan menjadi aspek yang mendasar untuk terciptanya perubahan yang memberikan pengaruh bagi kondisi sosial seluruh lapisan rakyat.
. Otoritarianisme serta liberalisasi ekonomi dan perdagangan yang berlaku pada masa rezim Orde Baru (orba) yang menimbulkan penindasan bagi rakyat selama 32 tahun membuat gerakan mahasiswa kembali memberikan pengaruh yang signifikan bagi kondisi rakyat pada reformasi 1998. Namun, paradigma “aktivisme terhadap kekuasaan” yang kental dikalangan mahasiswa pada saat itu, juga tidak bisa dipisahkan dari peran mahasiswa angkatan lalu sejak berdirinya rezim tersebut.
Bila berkaca pada lapisan sejarah yang ada, kesadaran akan posisi sosial dan kepemilikan paradigma yang radikal berupa perspektif kerakyatan adalah dua hal yang selalu mengantarkan gerakan mahasiswa kapada perubahan yang selalu dicita-citakan rakyat. Namun, pasca reformasi kondisi gerakan mahasiswa seolah tenggelam bersamaan dengan euphoria, kebebasan dan demokrasi yang telah dicapainya. Kondisi mahasiswa dikampus-kampus praktis cair ditengah semakin mengentalnya dominasi modal asing dan penindasan yang membawanya di Indonesia. Banyak pengaruh yang menyebabkan hal ini terjadi, dimana semuanya merupakan bagian dari hegemoni yang diciptakan rezim berkuasa yang mengabdikan diri pada kepentingan modal.
Setelah tumbangnya orde baru dan bergulirnya reformasi, kebebasan dalam segala aspek kehidupan yang sebelumnya sangat dibatasi mendapatkan ruang yang seluas-luasnya bersamaan dengan proses demokratisasi. Di kalangan mahasiswa sendiri yang sebelumnya sangat dibatasi kebebasan mengalami perubahan yang cukup mendasar. Namun, era “kebebasan” ini malah membuat mahasiswa tersebut seolah-olah kehilangan peran dan tanggung jawab sebagai kaum terpelajar. Mahasiswa larut dalam kebebasan yang didengung-dengungkan: menjadi individualis dan terkotak-kotak. Tanggung jawab yang diemban berkaitan dengan posisi sosial dan peran historisnya yang sesungguhnya nyaris hilang. Apatisme tumbuh subur dan terus menjamur dikalangan mahasiswa dan efektif membendung kesadaran tentang posisi sosial dan kepemilikan perspektif kerakyatannya. Hal ini tentunya jadi penyebab utama mandulnya gerakan mahasiswa saat ini. Kondisi mahasiswa yang praktis cair dan mengalami kekosongan ideologi, membuat hal-hal yang mampu memupuk tumbuh suburnya apatisme dan ruang yang luas dikalangan mahasiswa. Hedonisme di kalangan mahasiswa pun semakin menguat. Sehingga kegiatan-kegiatan yang berorientasi sosial yang bersentuhan langsung dengan rakyat (advokasi dan aksi); cenderung ditinggalkan. Bahkan, ketidak pedulian dengan kondisi politik baik ditingkatan kampus maupun nasional menjadi hal yang umum kita jumpai di kalangan mahasiswa. Lalu, berkuasanya kelompok-kelompok atau organisasi mahasiswa yang berlandaskan pada fundamentalisme agama, lembaga - lembaga formal kemahasiswaan (BEM, BPM/Senat, Himpunan Mahasiswa Jurusan) membuat mahasiswa terkotak-kotak. Hal ini disebabkan karena organisasi tersebut bersifat eksklusif dan membentuk oligarki kekuasaan sendiri yang bernuansa feodalisme (senioritas) yang berhasil mematikan daya kritis mahasiswa. Tidak ada upaya yang dilakukan untuk membangun satu kesatuan pikiran dan tindakan di mahasiswa, bahkan dalam tingkatan isu-isu kampus yang secara langsung merugikan mahasiswa. Selain itu, berbagai kebijakan, khususnya di tingkat sektoral (pendidikan) yang dihasilkan selama rezim SBY – Boediono nyatanya juga telah memberi dampak yang cukup besar bagi gerakan mahasiswa. Komersialisasi.pendidikan, penyediaan fasilitas bagi mahasiswa yang sangat dibatasi, ilmu-ilmu yang didapat dari luar kelas saat ini tidak dihargai oleh pihak kampus, kurikulum yang mengabdi pada pasar dan kepentingan kapitalisme mematikan kepekaan terhadap masalah sosial dan perspektif kerakyatan dikalangan mahasiswa. Berbagai kebijakan menjadi penyebab apatisme dikalangan mahasiswa, yang berujung pada hampir tidak adanya gerakan mahasiswa yang besar pengaruhnya saat ini. Bila ada aksi-aksi perlawanan, biasanya bersifat reaksioner dan tidak memiliki konsepsi yang jelas serta terarah yang dapat menghadirkan perubahan yang mengakar pada tatanan sosial dan kondisi objektif rakyat. Kebijakan seperti pemberlakukan Badan Hukum Milik Negara (BHMN) dan Badan Hukum Pendidikan (BHP) membuat biaya kuliah semakin mahal. Mahalnya biaya kuliah tersebut membuat tuntutan normative mahasiswa seperti agar “cepat lulus” semakin meningkat. Bahkan, lebih dari itu banyak diantara mereka yang berpola pikir ’uang’ yakni menggunakan status mahasiswa untuk mencari profit seperti bergabung dengan parpol borjuis, atau mengabdi pada senior mereka yang telah lebih dahulu memiliki jabatan di pemerintahan. Selain itu sistem perkuliahan yang ada sekarang, menciptakan dilema dikalangan mahasiswa. Absensi kehadiran yang sangat dibatasi (ketidakhadiran maksimal dua sampai tiga kali) membuat mahasiswa mau tidak mau harus mengurung diri dikampus, kegiatan-kegiatan diluar harus dikurangi, dengan asumsi semakin tingginya IP maka semakin banyak pula beban SKS yang didapatkan dengan harapan cepatnya proses kelulusan. Ini kemudian yang menyebabkan seorang mahasiswa/I tersebut semakin terkurungnya didalam ruangan kampus.
Berkuasanya rezim neolib SBY-Boediono yang menghasilkan berbagai kebijakan yang menyengsarakan, bukan hanya pada sektor mahasiswa, tapi juga sektor-sektor rakyat lainnya, seperti buruh, tani, dan lain-lain, tentu menjadi akar masalah saat ini. Gerakan mahasiswa seharusnya dapat membangun gerakannya berdasarkan kondisi objektif yang ada dan seiring dengan hegemoni rezim yang terus berjalan. Kesadaran rakyat atas penindasan yang ada saat ini pun harus terus ditumbuhkan. Sehingga tuntutan perubahan yang utama dari keadaan yang sedemikian menyengsarakan ini adalah bahwa rezim neolib SBY-Boediono harus segera diganti dengan rezim dan sistem politik yang lebih memanusiakan manusia. Sistem yang menghapus eksploitasi manusia atas manusia lainnya, sistem yang dapat mewujudkan kesejahteraan rakyat. Dimana sistem seperti itu tentu hanya dapat diwujudkan ketika rakyat tertindas, buruh, tani, perempuan, kaum miskin kota, sendirilah yang berada di tampuk kekuasaan. Dengan demikian, tugas dari gerakan mahasiwa seharusnya menjadikan rakyatnya berkuasa penuh atas rejim dan system yang selama ini menindas rakyatnya. (Jona/Resista)