Jumat, 22 Juli 2011

"Pendidikan dan Perempuan"

Pendidikan pada dasarnya adalah membebaskan manusia dari kebodohan dan ketertindasan. Kemudian saling membagikannya antar sesama manusia dengan tidak pandang bulu, warna kulit, maupun jenis kelamin yang ada. Pada waktu masa kecil, pendidikan biasanya bermula dari orang tua yang ruang lingkupnya adalah keluarga. Di dalam kelurga itu sendiri pendidikan juga ternyata masih saja dibedakan antara anak laki-laki dan anak perempuan hingga ke jenjang bangku perguruan tinggi yang seharusnya dijalankan oleh seorang anak baik perempuan maupun laki - laki. Beberapa faktornya seperti menganggap bahwa perempuan akan di “pertanggung jawabkan”, oleh karenanya tidak perlu untuk mendapatkan pendidikan setinggi – tinggi mungkin sedangkan anak laki – laki malah sebaliknya dengan pandangan bahwa mereka akan menjadi tolak ukur atas masa depan.

Fakta ini sudah sangat meluas diseluruh kalangan masyarakat Indonesia sekarang, dimana akhirnya melahirkan dikriminasi antara perempuan dan laki – laki dalam proses sebuah pendidikan. Jika kita teliti lebih jauh lagi, masih banyak fakta mengatakan bahwa peningkatan angka buta huruf masih saja terjadi baik didaerah pedesaan maupun kota – kota. Dan pemerintah juga belum dapat memfasilitasi akan akses tersebut ditambah dorongan faktor dari dalam keluarga yang mengakibatkan akhirnya kaum perempuan tidak mendapatkan akses dalam pendidikan tersebut.

Perempuan yang seharusnya mendapatkan kesempatan pendidikan, bersosialisasi, ruang bicara dan hak yang sama seperti halnya laki – laki pada kenyataannya tidak mampu untuk mengaksesnya karena hal diskriminasi tersebut. Fakta lain juga mengatakan, dilingkungan keluarga peran perempuan memiliki peran penting dalam mendidik anak-anak mereka nantinya, dengan asumsi apabila seorang anak melakukan tindakan yang negatif maka yang disalahkan kemudian adalah seorang ibu yang tidak memberi arahan baik terhadap anaknya. Padahal ketika mendidik seorang anak dalam lingkup keluarga maka peran kedua orang tua sangatlah penting untuk memberikan perspektif yang setara antara perempuan dan laki – laki. 

  Di lingkungan pekerjaan, masih banyak juga ditemukan penekanan terhadap perempuan, misalnya dengan dilarangnya seorang pekerja perempuan untuk ikut berorganisasi, tidak diberikan cuti haid, harus tampil sempurna secara fisik agar menarik, dan lain sebaginya. Disadari atau tidaknya ini merupakan suatu bentuk penindasan atau diskriminasi terhadap perempuan, bahwa untuk menjalankan sebuah pekerjaan tidaklah harus tampil sebagaimana mestinya yang diharapkan oleh pejabat – pejabat perusahaan karena dengan hal itu akan memaksa seorang perempuan untuk tampil sempurna sesuai dengan yang mereka harapkan tanpa melihat kondisi objektif dari perempuan tersebut.

Masih banyak fakta lain yang mengatakan bahwa sampai hari ini kaum perempuan masih saja diperlakukan secara diskriminasi bahkan eksploitasi. Ini karena perspektif yang dibangun adalah semata – mata karena seorang perempuan lemah, tidak berdaya, menerima apa adanya, dll yang kedepannya hanya melahirkan penindasan. Jika sedari awal pendidikan berperspektif kesetaraan  yang dibangun merupakan hak yang sama antara perempuan dan laki - laki maka tidak ada kemudian lahirnya perbedaan tersebut. Hingga hari ini pun, peran pemerintah yang seharusnya mengakomodir semua problematika ini belum mampu untuk menjawabnya. Ditingkatan parlemen juga masih banyak bungkaman yang dilakukan atas suara perempuan untuk mengambil keputusan. Ini bukti bahwa perempuan masih dipandang sebelah mata. Maka, kita sebagai perempuan jangan takut untuk menganilisis, bersuara serta bersatu untuk membongkar semua perbedaan tersebut yang nantinya melahirkan harapan agar kehidupan kita sama, tidak ada lagi penindasan terhadap yang satu dengan yang lainnya.(Pita/Resista)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar